Topik 4. Aksi Nyata. Pemahaman tentang Peserta Didik dan Pembelajarannya Bahasa Indonesia

Tugas Mata Kuliah Pemahaman tentang Peserta Didik dan Pembelajarannya Bahasa Indonesia

01.02.3-T3-8 Aksi Nyata

 

Nama  : Inka Nabila Friski Lahay, S.Pd

Pertanyaan:

  1. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan dari topik ini?
  2. Kendala apa yang kemungkinan muncul ketika kita melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik?  
  3. Hal lain apakah yang ingin Anda pelajari terkait dengan lingkungan belajar peserta didik?

Jawaban:

1.          Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan dari topik ini?

Saya memahami bahwa roses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam ruangan saja, namun proses pembelajaran juga menarik jika dapat dilakukan di mana saja. Arti di mana saja adalah bahwa setiap peserta didik dapat mempelajari hal baru bukan hanya dari buku, goresan tangan guru di papan tulis, atau penjelasan dari guru. Namun peserta didik dapat belajar dari lingkungan, teman-teman, dan hal yang ada di sekitar mereka.

Konsep mengenai lingkungan belajar menurut Ki Hadjar Dewantara terdiri atas sekolah, keluarga, dan masyarakat.

a)          Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan formal yang mencangkup guru, kepala sekolah, kurikulum, dan peserta didik itu sendiri. Lingkungan belajar menjadi faktor penting dalam kesuksesan pembelajaran karena lingkungan belajar akan mendukung kegiatan belajar mengajar, pembelajaran yang menyenangkan, nyaman, dan dapat mencapai tujuan pembelajaran. Lingkungan belajar tersebut seperti menjadikan sekolah sebagai kegiatan yang menyenangkan akan membuat peserta didik senang dan bersemangat mengikuti pembelajaran, manajemen sekolah yang kolaboratif dan kompeten, sekolah dan keluarga yang bekerja sama, guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dengan menggunakan metode bervariasi, dan berbagai hal lainnya. 

b)          Keluarga, Sebagai pendidikan informal, keluarga memiliki peran penting dalam hal membentuk keyakinan anak terhadap suatu agama, memberikan nilai-nilai moral, serta budaya dan keterampilan tertentu. Keluarga sebagai pusat pendidikan perlu untuk membimbing anak menjadi pribadi yang utuh.

c)          Masyarakat mencakup lembaga profesi, komite sekolah, dan masyarakat lainnya. Pendidikan masyarakat terjadi secara tidak langsung, dalam arti peserta didik mencari pengetahuan dan pengalaman sendiri ketika mereka berada di tengah masyarakat dengan beragam latar belakang, budaya, pendidikan, karakter, dan hal lainnya. Ketika mereka berada dalam lingkungan masyarakat yang majemuk, karakter yang telah dibentuk oleh keluarga menjadi sangat penting sebagai pondasi dan batasan mereka menerima hal baru dari masyarakat. Oleh karena itu, setiap individu yang berada di lingkungan peserta didik membawa pengaruh bagi perkembangan pendidikan mereka.

 

Konsep Tri Pusat Pendidikan berarti ketiga lingkungan tersebut harus saling bersinergi atau selaras untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berpihak pada peserta didik. Sinergi ini dapat berupa pelaksanaan kewajiban secara maksimal sesuai peran masing-masing pihak, baik itu di lingkungan sekolah, rumah, atau masyarakat.

 

Menurut Weber Dictionary, disiplin bisa memiliki arti (1) hukuman, (2) perintah, (3) bidang ilmu, (4) pelatihan yang mengoreksi, membentuk, atau menyempurnakan kemampuan mental atau karakter moral, (5) kontrol yang diperoleh dengan menegakkan ketaatan atau perintah, (6) perilaku yang tertib atau teratur atau pola perilaku, (7) pengendalian diri. Banyak pengertian disiplin, namun dalam pendidikan anak, disiplin merupakan mendidik anak untuk menanamkan kontrol diri dan pembentukan kepercayaan diri.

 

Pada hakikatnya disiplin dan hukuman memiliki arti yang sangat berbeda meskipun kerap kali disiplin diterapkan lewat pemberian hukuman. Disiplin mengajarkan anak bagaimana harus bertindak dan harus masuk akal bagi seorang anak. Sedangkan hukuman hanya memberitahu anak bahwa dia melakukan hal yang buruk. Hukuman tidak memberitahu anak apa yang harus dia lakukan sebagai alternatif. Jadi hukuman sangat mungkin tidak masuk akal bagi anak. Ketika disiplin anak tumbuh karena motivasi dari dalam dirinya, ini disebut dengan disiplin positif.

 

Di dalam kelas, disiplin positif ditujukan untuk mengembangkan hubungan yang saling menghormati. Disiplin positif mengajarkan orang dewasa untuk bersikap ramah dan sekaligus tegas pada saat yang sama, bukan bersifat kasar/keras dengan berbagai hukuman atau bersikap permisif.

Oleh karena itu penerapan disiplin positif memerlukan beberapa asas yang meliputi hal-hal berikut.

a)          Saling menghormati; Dalam hal ini antarpendidik harus saling menghormati satu dengan yang lain karena pendidik merupakan model bagi anak. Selain itu pendidik juga perlu menghormati kebutuhan peserta didik.

b)          Mengidentifikasi motif di balik perilaku/tindakan anak; Akan lebih efektif bagi kita sebagai guru untuk mengubah perilaku anak bila kita mampu mengidentifikasi motif kemudian mengubah keyakinan anak yang membuat dia melakukan tindakan atau merubah perilaku.

c)          Komunikasi yang efektif dan keterampilan memecahkan masalah;

d)          Disiplin yang mengajarkan (bukan bersikap permisif atau menghukum);

e)          Fokus pada solusi, bukan hukuman;

f)           Memberikan dorongan (bukan pujian). Dorongan menunjukkan upaya dan perbaikan, tidak hanya kesuksesan, dan membangun harga diri dan pemberdayaan jangka panjang.

 

Saya juga mempelajari tentang bagaimana menumbuhkan karakter disiplin positif bagi peserta didik tanpa menggunakan pujian dan hukuman; tentang seberapa besar pengaruh disiplin positif terhadap terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik, dan bagaimana membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman dengan melibatkan guru, keluarga, dan masyarakat dalam menumbuhkan karakter disiplin positif bagi peserta didik

 

2.          Kendala yang kemungkinan muncul ketika kita melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik

Proses melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik dapat menghadapi sejumlah kendala. Berikut adalah beberapa kemungkinan kendala yang mungkin muncul:

a)          Perbedaan Nilai dan Budaya: Sekolah, keluarga, dan masyarakat mungkin memiliki nilai dan budaya yang berbeda. Perbedaan ini dapat menciptakan hambatan dalam mengembangkan pendekatan bersama terhadap pendidikan yang aman dan nyaman.

b)          Kurangnya Komunikasi dan Kolaborasi: Ketidakseimbangan atau kurangnya komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dapat menyulitkan koordinasi upaya bersama. Kurangnya kolaborasi dapat menghambat implementasi strategi yang efektif.

c)          Ketidaksetaraan Sumber Daya: Sekolah, keluarga, dan masyarakat mungkin memiliki tingkat akses terhadap sumber daya yang berbeda. Ketidaksetaraan ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang aman.

d)          Tantangan Keamanan dan Keuangan: Beberapa lingkungan mungkin menghadapi tantangan keamanan atau masalah keuangan yang dapat mempengaruhi ketersediaan sumber daya untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

e)          Ketidaktersediaan Waktu: Sekolah, keluarga, dan masyarakat mungkin menghadapi keterbatasan waktu. Hal ini dapat membuat sulit untuk terlibat secara aktif dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang optimal.

f)           Kurangnya Kesadaran dan Pendidikan: Masyarakat mungkin kurang sadar akan pentingnya lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Kurangnya pemahaman ini dapat menghambat partisipasi dan dukungan dari keluarga dan masyarakat.

g)          Ketidakcocokan Metode Pengajaran: Metode pengajaran yang digunakan di sekolah mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan keluarga atau masyarakat. Ini dapat menciptakan ketegangan dan ketidaksepakatan dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang sesuai.

h)          Tantangan Kesehatan Mental dan Emosional: Peserta didik dan anggota masyarakat mungkin menghadapi tantangan kesehatan mental dan emosional yang dapat mempengaruhi partisipasi dan kontribusi mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.

 

Mengatasi kendala-kendala ini memerlukan komitmen, komunikasi terbuka, dan kerjasama yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pemahaman bersama tentang tujuan akhir menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sangat penting untuk mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul.

Top of Form

 

3. Hal lain yang ingin saya pelajari terkait dengan lingkungan belajar peserta didik.

Terkait dengan lingkungan belajar peserta didik, ada beberapa aspek dan topik menarik yang ingin saya eksplorasi lebih lanjut. Beberapa di antaranya melibatkan bidang psikologi, pendidikan, dan perkembangan anak. Berikut adalah beberapa hal lain yang dapat dipelajari terkait dengan lingkungan belajar peserta didik:

a)          Psikologi Pendidikan: Memahami prinsip-prinsip psikologi yang berlaku dalam konteks pendidikan, seperti motivasi, pembelajaran, dan perkembangan kognitif, dapat membantu menciptakan strategi pembelajaran yang lebih efektif.

b)          Kemajuan Teknologi endidikan: Menyelidiki perkembangan teknologi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Penggunaan teknologi pendidikan seperti e-learning, platform pembelajaran daring, dan aplikasi edukatif dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.

c)          Pendidikan Inklusif: Mempelajari strategi dan praktik terkait dengan pendidikan inklusif yang mencakup semua peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau berkebutuhan khusus.

d)          Pendidikan Karakter: Eksplorasi pendidikan karakter dan pengembangan nilai-nilai moral dan etika di lingkungan belajar. Pendidikan karakter dapat membentuk karakter peserta didik untuk menghadapi tantangan hidup.

e)          Kesehatan Mental dan Emosional: Memahami cara menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan mental dan emosional peserta didik. Ini mencakup pendekatan untuk mengelola stres, kecemasan, dan memberikan dukungan psikologis.

f)           Metode Pengajaran Inovatif: Menyelidiki metode pengajaran inovatif yang dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik, seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, atau flipped classroom.

g)          Bimbingan dan Konseling Pendidikan: Memahami peran bimbingan dan konseling dalam membantu peserta didik mengatasi masalah pribadi, akademis, dan karir. Konselor pendidikan berperan penting dalam membantu peserta didik mencapai potensi penuh mereka.

h)          Pendidikan Multibudaya: Memahami pentingnya pendidikan multibudaya dan strategi untuk menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keragaman budaya, etnis, dan latar belakang siswa.

i)           Pembelajaran Kolaboratif: Eksplorasi model pembelajaran kolaboratif yang mendorong kerjasama antarpeserta didik, membantu mereka mengembangkan keterampilan sosial dan kerjasama.

 

Comments

Popular posts from this blog

01.01.2-T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

01.01.2-T2-7. Koneksi Antar Materi - Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya Kesimpulan dan Refleksi Penguasaan Materi 'Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya'