01.01.2-T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

Kesimpulan Penguasaan Materi 'Perjalanan Pendidikan Nasional'

Perjalanan pendidikan nasional Indonesia dimulai dari masa penjajahan hingga saat ini, selalu ada upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan dan memajukan pendidikan yang lebih terjangkau dan berkualitas. Adanya gerakan nasionalisme pada masa awal kemerdekaan hingga perjuangan untuk menciptakan kesetaraan dalam pendidikan pada masa reformasi menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dalam pembangunan bangsa.

Dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bukan hanya mengenai akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Ki Hadjar Dewantara berjuang untuk dapat memperkuat jati diri bangsa dan mengembangkan potensi individu, serta mendorong penemuan-penemuan baru secara kreatif. Ia juga menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya tentang menambah pengetahuan tetapi juga membantu seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungannya.

Secara keseluruhan, perjalanan pendidikan nasional dan perspektif Ki Hadjar Dewantara mengajarkan kita bahwa pendidikan harus dipandang sebagai sebuah upaya untuk menciptakan generasi yang lebih baik, berkualitas, serta berdaya saing tinggi di dunia global. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama dan komitmen dari seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Refleksi tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu sebelum mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya berpikir bahwa pembelajaran tradisional adalah pembelajaran yang selalu dibutuhkan peserta didik, karena pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran yang fokus pada perpindahan pengetahuan dari guru ke peserta didik, sehingga guru dianggap sebagai sumber pembelajaran utama untuk peserta didik dapat menyerap informasi-informasi sedangkan peserta didik hanya sebagai objek pembelajaran. Tugas seorang guru hanya mengajarkan materi pelajaran agar peserta didik memiliki peningkatan dalam akademis. Saya juga belum memahami makna dari kalimat memanusiakan manusia dan bagaimana cara memanusiakan manusia sehingga saya berpikir bahwa akan lebih mudah bagi seorang guru untuk mencapai tujuan pembelajaran jika peserta didik diberikan didikan dengan yang terstruktur dan tegas, dan cara yang tepat untuk menumbuhkan sikap disiplin mereka dengan menerapkan teori belajar behaviorisme yaitu dengan cara memberi hukuman dan penghargaan (hadiah).

Namun setelah mempelajari pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya memahami bahwa selain memberikan materi pelajaran, guru adalah seorang pendidik yang memiliki tugas untuk mentransfer ilmu yang mereka miliki dan mendidik perubahan sikap dan karakter peserta didik. Dalam proses pembelajaran, guru harus dapat memberikan perhatian, menghargai setiap pencapaian peserta didik dan merencanakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan mereka.

Maka dari itu seorang guru tidak harus terpaku pada suatu teori belajar, seperti teori belajar behaviorisme, namun juga bisa menggunakan teori belajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Seorang guru harus menjadi fasilitator yang dapat mendorong siswa untuk berperan aktif dalam menemukan jawaban permasalahan mereka, membantu mereka berpikir akan suatu fenomena yang ada di sekitarnya, membantu mereka menemukan potensi mereka, sehingga peserta didik sebaiknya dapat menentukan bagaimana proses pembelajarannya. saya memahami bahwa peserta didik bukanlah objek utama dalam pembelajaran di kelas melainkan subjek dalam proses pembelajaran. Guru perlu juga menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, karena setiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran.

Pemikiran konsep pendidikan yang saya pahami terasa kurang tepat setelah mempelajari mengenai pemikiran-pemikiran dasar Ki Hadjar Dewantara. Terdapat beberapa hal yang membuat saya sadar bahwa konsep pendidikan yang selama ini saya pahami ternyata masih banyak kekeliruan.

Hal pertama yaitu saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan dari guru ke peserta didik, melainkan Pendidikan juga merupakan proses untuk peserta didik dapat mengembangkan potensi agar menjadi warga negara yang berkualitas dan berjiwa merdeka.

Kedua, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan prinsip budi pekerti. Saya pun menyadari bahwa penerapan budi pekerti juga merupakan hal penting yang harus sudah diterapkan di sekolah-sekolah dengan pendidikan berkarakter karena akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Ketiga, Ki Hadjar Dewantara memaparkan bahwa pendidikan harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Di mana Pendidikan harus relevan dengan kebutuhan peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dan mengikuti kondisi saat ini agar pembelajaran tidak ketinggalan zaman.

Terakhir, yaitu pemikirin dasar Ki Hadjar Dewantara mengernai sistem di antara, pada penjelasan itu saya menyadari bahwa peran guru dalam pembelajaran hanya untuk membimbing atau memberi arahan kepada peserta didik sehingga guru bukan menjadi sumber utama pembelajaran melainkan fasilisator pembelajaran. Secara garis besar, saya menyadari bahwa setiap peserta didik sudah mempunyai potensinya masing-masing dan sebagai pendidik hanya perlu membimbing atau memberi arahan agar peserta didik dapat mengelola potensinya secara relevan dengan pembelajaran dan mendapatkan hasil yang positif.

Hal ini digambarkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa peserta didik bukanlah kertas kosong melainkan kertas yang sudah diberi coretan tipis dan guru tidak boleh seenaknya membuat coretan baru tetapi membantu peserta didik untuk menebalkan coretan tersebut.

Setelah saya mengetahui dan menelaah hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya mempunyai keinginan untuk merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas saya. Berikut yang akan saya lakukan:

1. Menjelaskan pendidikan karakter

2. Menghadirkan kegiatan kerja sama

3. Memperkuat toleransi dengan sesama teman maupun seluruh warga sekolah.

4. Mendorong kreativitas peserta didik

5. Menerapkan pembelajaran yang menjunjung tinggi kodrat alam dan zaman.

Hal penting dari refleksi ini adalah saya sebagai guru menyadari bahwa sangat penting untuk selalu mengembangkan pengetahuan maupun menggali kemampuan dengan selalu belajar karena memahami peserta didik dengan berbagai macam karakteristik yang berbeda bukanlah hal mudah selain itu, perubahan dalam Pendidikan juga selalu ada perubahan sehingga kita sebagai guru harus selalu bisa beradaptasi dengan perubahan di masa depan.


Comments

Popular posts from this blog

Topik 4. Aksi Nyata. Pemahaman tentang Peserta Didik dan Pembelajarannya Bahasa Indonesia

01.01.2-T2-7. Koneksi Antar Materi - Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya Kesimpulan dan Refleksi Penguasaan Materi 'Pendidikan dan Nilai Sosial Budaya'